IndramayuJeh
IndramayuJeh IndramayuJeh IndramayuJeh IndramayuJeh IndramayuJeh IndramayuJeh IndramayuJeh

Gelombang Tinggi di Perairan Cirebon, Nelayan Kecil Diimbau Tidak Melaut

Gelombang Tinggi di Perairan Cirebon, Nelayan Kecil Diimbau Tidak Melaut

 

CIREBON –

Cuaca buruk dan gelombang tinggi yang melanda perairan Cirebon membuat hasil tangkapan menurun, bahkan beberapa nelayan mengaku harus pulang melaut dengan tanpan hampa.

Kondisi lautan yang kurang mendukung, disebabkan saat ini sedang memasuki musim angin barat yang terjadi sejak Desember dan diperkirakan sampai Maret.

Di perairan Cirebon sendiri, ketinggian ombak laut mencapai 3 meter. Kondisi tersebut sangat tidak aman, terutama nelayan yang menggunakan kapal kecil. Bahkan, kapal berkapasitas 30 GT pun harus ekstra hati-hati.

Kepala Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Kejawanan Cirebon, Imas Masriah mengimbau, jika nelayan kecil memaksa untuk melaut diharapkan menggunakan peralatan keamanan yang lengkap.

“Kami mengeluarkan peringatan karena tinggi gelombang berdasarkan informasi BMKG. Kalau ada kapal yang tetap mau berlayar, kami cek persyaratan keselamatannya, seperti jumlah pelampung sama dengan jumlah nelayan yang berlayar,” katanya, Selasa (29/1/2019).

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sejumlah nelayan kecil yang tidak melaut untuk sementara beralih profesi. Mereka biasanya memilih jadi buruh bangunan, berdagang, menarik becak, dan lainnya.

“Selama musim baratan, nelayan yang tidak melaut melakukan aktivitas lain, seperti memperbaiki kapal. Ada juga aktifitas lainnya agar tetap menghasilkan uang,” tuturnya.

Selama musim baratan sendiri, jumlah kapal yang berlayar dari PPN Kejawanan dikurangi, dari 35 sampai 40 kapal hanya 20 kapal yang rata-rata berkapasitas 30 GT. “Nelayan berperahu besar tetap bisa berlayar, yang penting nakhoda tahu cara mengendalikan kapal. Biasanya ketika situasi di laut membahayakan, mereka berlindung di pulau,” ujarnya.

Imas menjelaskan, jika cuaca normal kapal-kapal besar dapat melaut hingga ke luar pulau dengan hasil tangkapan melimpah.

“Kapal-kapal yang berukuran 30 Gross Ton (GT), menangkap di perairan Natuna (Provinsi Kepaulauan Riau), Selat Karimata (antara Pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan), hingga Laut Arafuru (perairan antara Pulau Papua dan Australia di Samudera Pasifik,” pungkasnya. (Juan)

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *

        
indramayujeh.com Copyright 2017 ©. All Rights Reserved.