IndramayuJeh
IndramayuJeh IndramayuJeh IndramayuJeh IndramayuJeh IndramayuJeh IndramayuJeh IndramayuJeh

Sepi Pengunjung, Pedagang Kuliner Cimanuk Keluhkan Sistem Parkir Otomatis

Sepi Pengunjung, Pedagang Kuliner Cimanuk Keluhkan Sistem Parkir Otomatis

 

INDRAMAYU –

Pedagang Kuliner Cimanuk (Kulcim) di Jalan Siliwangi, Kabupaten Indramayu, mengeluhkan sepinya pengunjung yang membuat penghasilan mereka menurun drastis.

Para pedagang menuding penurunan omzet terjadi setelah di lokasi itu diterapkan sistem parkir otomatis yang dianggap malah mengurangi minat pengunjung untuk datang ke Kulcim. Jika ada pengunjung yang datang ke sana, mereka memilih untuk memarkirkan motornya di luar areal, seperti di pinggir jalan.

Kondisi ini dirasakan Rasidi pedagang yang sudah bertahun-tahun berjualan di Kulcim. Menurutnya, sistem parkir otomatis membuat pengunjung terbebani biaya parkir yang mahal. Apalagi rata-rata pengunjung yang biasanya berburu kuliner di Kulcim adalah kalangan pelajar.

“Semenjak diberlakukannya sistem parkir otomatis membuat pengunjung menurun drastis, maklum rata-rata pengunjung kebanyakan dari kalangan pelajar. Dan ketika singgah di tempat ini tidak sebentar bahkan sampai larut malam, mungkin karena perhitungan jam atau tidak biasa di parkir,” jelas Rasidi.

Sebelum sistem parkir otomatis diberlakukan, Rasidi mengaku, per hari pendapatannya rata-rata mencapai Rp600.000. Tapi sekarang menurun hingga hanya Rp200.000/hari, itupun jika berdagang sampai pukul 02.00 dini hari.

Rasidi hanya berharap, pengelola Kulcim Cimanuk memikirkan langkah win-win solution di antara pedagang dengan pengunjung. “Memang kami menyadari dengan adanya ketentuan seperti ini untuk menertibkan kendaraan dan menghindari pencurian, tetapi malah meresahkan para pedagang di sini. Kami berharap agar ada solusi yang sama-sama bikin enak pedagang dan pengunjung,” imbuhnya.

Eko, salah seorang pengunjung menngakui, sistem parkir otomatis membuat dirinya menjadi tak nyaman dan enggan berlama-lama ‘jajan’ di Kulcim Cimanuk. “Dengan sistem parkir seperti ini, saya merasa enggan untuk memasukinya, karena tidak biasanya dan bila kami singgah hingga larut mungkin biaya parkir cukup tinggi,” keluh Eko.

“Seharusnya yang ditertibkan bukan kendaraan saja, melainkan pengemis dan pengamen juga harus benar-benar ditertibkan. Terkadang pengamen meminta-minta sampai memaksa bila tidak diberi terkadang mengancam-ancam pengunjung disini, mungkin karena mabuk atau bergerombolan sehingga pengunjung merasa risih,” ungkapnya. (Tedy)

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *

        
indramayujeh.com Copyright 2017 ©. All Rights Reserved.