Next Post
bjb Amazing SurePrize Media Online_Media Online 970x90px

Warga Desa Nunuk Majalengka Mandikan Benda Pusaka Peninggalan Kerajaan Talaga

IMG_20210923_Tradisi Memandikan Pusaka Nunuk Majalengka (1)

MAJALENGKA – Setiap memasuki bulan Safar, warga Desa Nunuk Baru, Kecamatan Maja, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, selalu melaksanakan tradisi penyiraman sejumlah benda pusaka peninggalan abad ke-14.

Sesepuh desa setempat, Samsudin (90) mengatakan, munculnya tradisi tersebut setelah lunturnya pengaruh agama Hindu dan Budha di wilayah Nunuk pada abad ke-15.

“Riwayat ini dari lunturnya agama Hindu dan Budha oleh Islam, tepatnya pada bulan Safar, hari Senin, tanggal 14, abad ke-15. Gitu kalau cerita dari turun-temurun mah, soalnya kalau secara tertulis mah memang tidak ada,” ujar pria yang akrab disapa Abah Enda itu, Jumat (24/9/2021).

Adapun, ratusan benda pusaka yang terdiri dari ratusan pedang, tombak dan keris itu adalah peninggalan Kerajaan Talaga.

Dikatakan Abah Enda, sebelum adanya penduduk di Desa Nunuk ini, Kerajaan Talaga terlebih dahulu menempati desa tersebut. Sehingga dapat dikatakan warga Nunuk adalah keturunan dari Kerajaan Talaga.

Seperti yang diketahui, Kerajaan Talaga saat ini jika secara administrasi berada di Kecamatan Talaga, Kabupaten Majalengka.

“Kata nenek moyang di sini mah turunan nunuk itu yang sekarang patilasannya berada di blok Cileuweung. Ada 4 orang yaitu, Mbah Darma Kurangsa, Hariyang Banga, Ciung Wanara dan Baduga Jaya semuanya orang Banjarsari, blok Ciamis,” katanya.

Sementara itu pada peringatan tradisi kali ini, air 7 sumur, jeruk nipis dan kembang menjadi media untuk penyiraman atau memandikan benda pusaka yang oleh warga setempat disebut ‘Nyiramkeun pusaka’.

“Airnya kita ambil dari 7 blok di desa ini, air itu adalah sumber mata air (sumur) yang dianggap dibutuhkan (biasa dimanfaatkan) sama masyarakat. Tapi yang paling utamanya mah air yang bekas menghilangnya 4 orang itu,” jelasnya.

Abah Enda menyampaikan, tradisi penyiraman benda pusaka yang biasa digelar setiap tahun sekali ini lebih kepada pembelajaran untuk generasi penerus dan menjaga sejarah desa.

“Buat pembelajaran aja kepada generasi penerus, bahwa ada sejarah di desa ini. Dan, Peninggalan dari nenek moyang desa ini bukan berarti kita menuhankan benda tapi kita menjaga sejarah,” pungkasnya.(*)

indramayujeh

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Newsletter

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.

762ba2bf06f1b06afe05db59024a6990

Recent News