Next Post
bjb digi 22

Kemenko Kemaritiman Terapkan Teknologi Prisma untuk Produksi Garam, Ini Keunggulannya

20190805_Garam Cirebon Juan (1)

 

CIREBON –

Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman akan mendorong petani garam di seluruh Indonesia menggunakan teknologi ‘Prisma’. Pasalnya, teknologi Prisma memiliki sejumlah keunggulan diantaranya adalah dapat meningkatkan jumlah panen.

Dengan teknologi ini, garam dapat dipanen sepanjang tahun karena tidak terpengaruh oleh musim hujan, garam yang dihasilkan bermutu tinggi. Selain itu, garam juga dapat dipecah menjadi lima produk lainnya yang bernilai jual tinggi, dan penerapan teknologi ini tidak terlalu mahal.

Namun, untuk dapat mengaplikasikan teknologi Prisma dibutuhkan lahan yang luas, dan teknologi ini digadang-gadang dapat mengurangi ketergantungan impor.

Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Alam dan Jasa Agung Kuswandono mengatakan, para petani akan didorong untuk membentuk semacam koperasi atau berkolaborasi dengan petani garam lainnya agar tersedia lahan yang luas untuk menerapkan teknologi Prisma.

“Kita harus punya lahan 400 hektare untuk satu teknologi. Jadi kita ajak masyarakat melakukan proses pengembangan garam ini secara bersama-sama,” katanya, ditemui setelah meninjau sentra produksi garam dengan teknologi Prisma di Desa Bungko Lor Kecamatan Kapetakan Kabupaten Cirebon, Senin (5/8/2019).

Perlahan tapi pasti, pihaknya akan menghilangkan produksi garam tradisional yang menghasilkan garam dengan kualitas rendah. Penerapan teknologi baru ini, dapat mengurangi bahkan memutus ketergantungan produk impor khususnya garam.

“Ingin kita kenalkan bahwa ini loh kalau menggarap garam itu hasilnya tidak itu-itu saja. Kalau penerapan teknologi ini ke arah yang positif, maka keran impor garam akan ditutup,” ungkapnya.

Menurutnya, dengan teknologi sederhana dan biaya tidak terlalu mahal garam dapat dipecah menjadi lima produk lainnya yang bernilai jual tinggi.

“Hasil produksinya tidak hanya garam, tapi dapat menghasilkan air minum, artemia atau pakan ikan dan udang, kapur Caco3, dan menghasilkan garam kosmetik yang nilai jualnya lebih tinggi,” terangnya.

Ia berharap, secepatnya dapat mengaplikasikan teknologi Prisma di seluruh Indonesia. Hanya saja, permasalahan lahan yang selama ini menjadi ganjalan. “Kita ingin tahun ini sudah swasembada. Tapi memang permasalahan lahan tidak mudah dan merubah paradigma petani untuk mengembangkan teknologi baru juga tidak mudah,” pungkasnya. (Juan)

 

 

indramayujeh

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Newsletter

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.

762ba2bf06f1b06afe05db59024a6990

Recent News