IndramayuJeh
IndramayuJeh IndramayuJeh IndramayuJeh IndramayuJeh IndramayuJeh IndramayuJeh IndramayuJeh

Belum Ada Kandidat “Matahari Tunggal”, Calon Bupati Indramayu Masih Punya Peluang yang Sama

Belum Ada Kandidat “Matahari Tunggal”, Calon Bupati Indramayu Masih Punya Peluang yang Sama

 

INDRAMAYU –

Jelang Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati (Pilbup) Indramayu pada 9 Desember 2020 belum ada kandidat unggul yang berkategori matahari tunggal.

Sejumlah figur yang berpotensi maju sebagai calon masih memiiki problem popularitas dan elektabilitas. Belum munculnya matahari tunggal menyiratkan jika figur lain memiliki peluang yang sama.

Hal itu terungkap saat penyampaian analisis hasil survey Citra Komunikasi Lingkaran Survai Indonesia (Cikom LSI) Network Denny JA terkait dengan preferensi pemilih pada Pilkada Kabupaten Indramayu yang disampaikan Direktur Eksekutif Cikom LSI, Toto Izul Fatah pada acara paparan temuan survai bertema “Peta Preferensi Pemilih Jelang Pilkada Indramayu 2020” di Grand Trisula Indramayu, Kamis (08/07/2020).

Menurutnya, survai dilakukan pada 25 – 30 Juni 2020 dengan menggunakan metoda standar, multistage random sampling, wawancara dilakukan dengan tatap muka dan jumlah responden 440 dengan margin of error 4,8 %.

“Dalam berbagai simulasi jumlah kandidat mulai dari 39 calon, 19 calon, 17 calon, 13 calon, 10 calon dan 6 calon belum ada kandidat dukungan mutlak. Semua dukungan pemilih masih relative merata ke sejumlah figur, kecuali salah satu calon yang potensial didukung Golkar, Daniel Mutaqien Syafiuddin (DMS) yang elektabilitasnya selalu diatas figur lain,” kata dia didampingi Khotib yang juga moderator kegiatan.

Toto menyebutkan, pada simulasi 19 calon, DMS unggul dengan 19,3%. Simulasi 17 calon DMS meraih 22% dan dikerucutkan menjadi 6 calon perolehan DMS naik menjadi 22,6%. Sementara 5 besar dibawah DMS untuk simulasi 17 calon ada Taufik Hidayat (12,5%), KH. Syatori (10,9%), Hj. Ami Anggraeni (9,1%) dan Syaefuddin (4,1%).

“Pada simulasi 6 calon sejumlah figur dibawah Daniel mengalami kenaikan meski tidak signifikan, Taufik Hidayat (17,3%), Hj. Ami Anggraeni (11,6%), Syaefuddin (7,0%), Nina Agustina Bachtiar (5,5%), dan Muhammad Sholihin (1,4%). Dan ada 30,6% mengaku tidak tahu dan tidak jawab (swing voter),” sebutnya.

Dikatakan, meski mengungguli calon lain DMS belum masuk katagori aman untuk menang. Bahkan dalam sejumlah hal DMS sangat rawan terdowngrade alias potensial merosot elektabilitasnya denga beberapa catatan yang sering kali disebut sebagai hukum besinya untuk menang.

“Dari sejumlah figur DMS termasuk salah satu yang punya potensi rawan dipersepsi negative oleh public. Dan dari temuan survei, isu-isu negative yang terpotret itu punya pengaruh cukup besar yang bisa merontokan elektabilitasnya dengan catatan jika isu-isu negative tersebut diketahui mayoritas public. Sebab bisa saja isu negatif itu beredar tapi publik tak memercayainya,” kata Toto Izul Fatah.

Ia juga menyebutkan rata-rata tingkat pengenalan para calon masih rendah dibawah 70%. Padahal untuk bisa menang itu setiap calon harus memiliki tingkat pengenalan diatas 80%. Ini juga termasuk bagian salah satu hukum besi untuk menang, karena secara teoritis, makin dikenal makin punya potensi untuk dipilih. Kemudian semakin rendah pengenalan kecil juga kemungkinan untuk dipilihnya.

Masih terbukanya kemungkinan calon lain bisa mengalahkan DMS tergambar juga dari jumlah pemilih yang masih 70,6% mengambang dan belum bertuan. Masih tingginya jumlah pemilih tak bertuan sambungnya membuka peluang bagi calon lain untuk memperebutkan peluang itu. Begitu pula dengan elektabilitas pada strong supporternya (pemilih militant) rata-rata calon dibawah 10%.

“DMS sebagai calon dengan elektabilitas tinggi strong supporternya baru mengantongi 7,3%, KH. Syatori 4,1%, Juhadi Muhammad 3,9%, Taufik Hidayat 3,2%, Toto Sucartono 2,7%, Hj. Ami Anggraeni 2,5%, Kiai Abas Assafah 1,6%. Selebihnya masih dibawah 1%. Biasanya calon yang aman melenggang untuk menang itu harus mengantongi pemilih militan diatas 25%,” ujar dia.

Yang harus diwaspadai DMS tambahnya, jika terjadi aliansi dukungan mayoritas parpol yang sepakat mengusung pasangan calon dengan isu perubahan. Apalagi DMS dipersepsi sebagai figure yang merepresentasikan dinasti dan incumbent karena sosok ayahnya Irianto MS Syaifuddin (Yance) dan ibunya Anna Sophanah sehingga potensial memunculkan common enemy dengan contrasting figur status quo versus perubahan.

“Hal itu akan diperparah jika ada kader Golkar yang maju diusung koalisi parpol dengan isu perubahan melawan DMS. Itu berpotensi memecah pemilih Golkar dan bisa menggerus suara DMS,” tambahnya. (Pro/IJnews)

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *

        
indramayujeh.com Copyright 2017 ©. All Rights Reserved.