Next Post
bjb okt 2

Penyelarasan Etnis di Bangka Dapat Dijadikan Refleksi Bersama

 

KEADABAN suatu suku bangsa merupakan unsur-unsur budaya lokal yang dapat memperkuat solidaritas nasional.

Dikutip dari Lestari (2015) bahwa walaupun multi etnis, multi agama, serta multi budaya menjadi kekayaan dan landasan perdamaian bangsa, di sisi lain sangat rawan memicu konflik dan perpecahan.

Hal tersebut ditandai oleh kenyataan adanya kesatuan-kesatuan sosial berdasarkan perbedaan suku bangsa, agama, adat, dan kedaerahan serta perbedaan antara lapisan atas dan lapisan bawah yang menimbulkan kesenjangan sosial.

Dapat dilihat konflik rasisme di Papua, konflik ras di kota Sorong dan yang muncul kembali ke permukaan baru-baru ini konflik mengenai pembangunan Gereja Kristen Indonesia (GKI) Yasmin, belum lagi ujaran kebencian yang tak bosan-bosannya saling dilontarkan di sosial media antar agama, antar ras, dan sebagainya.

Hal tersebut tentunya akan selalu memunculkan keprihatinan bersama, ketika integrasi nasional terancam bukan dari pihak eksternal melainkan dari internal bangsa itu sendiri.

Tiga mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung turut merasakan keresahan yang mengusik hati dan membayangi pikiran “sebagai generasi tonggak perubahan, adakah yang bisa kita perbuat ?”

Untuk itu Gabrielia, Annisa Fadillah, dan Nabila Azzahra yang tergabung dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) melakukan penelitian yang bertajuk “Aktualisasi dan Eksistensi Semboyan Tong Ngin Fan Ngin Jit Jong dalam Penyelarasan Etnis di Pulau Bangka”. Penelitian dilaksanakan tak lepas dari bimbingan dan arahan Dr. Leni Anggraeni, M.Pd. selaku dosen pembimbing.

Penelitian ini berfokus pada Masyarakat etnis Melayu dan etnis Tionghoa yang hidup rukun dan harmonis tanpa konflik untuk waktu yang sangat lama. Dideklarasikan dalam sebuah semboyan yaitu tong ngin fan ngin jit jong yang memiliki arti “Pribumi Melayu dan Tionghoa semuanya setara”.

“Semboyan tong ngin fan ngin jit jong ini mencerminkan jalinan hubungan yang harmonis antar kedua etnis Melayu dan Tionghoa di Pulau Bangka. Nah, dari hal ini dapat menjadi refleksi bagi daerah-daerah di Indonesia khususnya yang sering terjadi konflik, sebagai bentuk pengejawantahan dari nilai-nilai Pancasila agar tercapai perdamaian bangsa.” papar Gabrielia selaku Ketua Tim, Kamis (29/7/2021).

Diharapkan penelitian ini nantinya akan bermanfaat untuk membangun pemahaman masyarakat berkaitan dengan nilai-nilai persatuan, toleransi, dan keberagaman yang tumbuh dalam etnis Melayu dan Tionghoa di Pulau Bangka. ***

Penulis : Gabrielia, Annisa Fadillah dan Nabila Azzahra. Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.

indramayujeh

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Newsletter

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.

762ba2bf06f1b06afe05db59024a6990

Recent News